Senin, 24 Oktober 2011

organisasi nirlaba


Organisasi nirlaba, non-profit, membutuhkan pengelolaan yang berbeda dengan organisasi profit dan pemerintahan. Pengelolaan organisasi nirlaba dan kriteria-kriteria pencapaian kinerja organisasi tidak berdasar pada pertimbangan ekonomi semata, tetapi sejauhmana masyarakat yang dilayaninya diberdayakan sesuai dengan konteks hidup dan potensi-potensi kemanusiaannya.

Sifat sosial dan kemanusiaan sejati merupakan ciri khas pelayanan organisasi-organisasi nirlaba. Manusia menjadi pusat sekaligus agen perubahan dan pembaruan masyarakat untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan kesejahteraan, kesetaraan gender, keadilan, dan kedamaian, bebas dari konfilk dan kekerasan.

Kesalahan dan kurang pengetahuan dalam mengelola organisasi nirlaba, justru akan menjebak masyarakat hidup dalam kemiskinan, ketidakberdayaan, ketidaksetaraan gender, konflik dan kekerasan sosial.

Pengelolaan organisasi nirlaba, membutuhkan kepedulian dan integritas pribadi dan organisasi sebagai agen perubahan masyarakat, serta pemahaman yang komprehensif dengan memadukan pengalaman-pengalaman konkrit dan teori manajemen yang handal, unggul dan mumpuni, sebagai hasil dari proses pembelajaran bersama masyarakat.

Dalam konteks pembangunan organisasi nirlaba yang unggul, berkelanjutan dan memberikan energi perubahan dan pembaruan bagi masyarakat, Bernardine R. Wirjana, profesional dalam bidang pemberdayaan masyarakat, yang selama dua dasawarsa menjadi pelaku manajemen organisasi nirlaba, mengabadikan proses pembelajaran atas pengalaman-pengalaman dan teori-teori manajemen terkini dalam bidang pemberdayaan masyarakat .

Prasyarat yang harus dipenuhi oleh para Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) bila ingin memiliki standar manajemen kelas dunia diantaranya ialah Zero Complaints. Di dalam menjalankan aktivitasnya, OPZ sudah sepatutnya menjunjung tinggi aplikasi service execellent di dalam kesehariannya melayani muzakki serta mustahik, sehingga komplain dapatlah diminimalisir bahkan dapat ditiadakan dalam target waktu tertentu. Demikian salah satu hal yang dibahas dalam Pelatihan “Manajemen Strategik untuk Organisasi Nirlaba” yang diadakan IMZ, 23 – 24 November 2010 di Puncak Jawa Barat.

Di dalam salah satu sesinya, Bapak Drs. Moch. Surjani Ichsan, MBA secara tegas menyampaikan bahwa manajemen kinerja unggul adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh setiap OPZ. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan didahului penyusunan rencana strategic.

Beliau juga mencontohkan, sebagai ketua BAZ Provinsi Jawa Barat, hingga saat ini ia pun tengah berusaha untuk menampilkan nuansa personal quality bagi para amil dan pengurusnya. Karena orang yang memiliki manajemen yang bagus dan diiringi dengan karakter berjihad yang bersungguh-sungguh inilah yang diperlukan oleh dunia zakat, sambungnya.

Training manajemen zakat seperti ini sudah beberapa kali diadakan oleh IMZ. Sebagai Lembaga yang fokus terhadap peningkatan kapasitas para pengelola zakat, IMZ memandang amat perlu menghadirkan tema-tema pelatihan terkait dengan penyusunan rencana dan aplikasi manajemen strategis. Maka wajar kegiatan seperti ini kerap dinantikan oleh para penggiat zakat di berbagai daerah.

Untuk memperkaya perspektif materi yang tersajikan, bila pada hari pertama narasumber berasal dari kalangan Badan Amil Zakat (pemerintah), maka untuk hari ke dua yang bertindak sebagai narasumber berasal dari kalangan Lembaga Amil Zakat (swasta) yakni Bapak Dr. Pamungkas selaku CFO Rumah Zakat. 

Dalam wawancaranya dengan IMZ, ia mengungkapkan bahwa Training ini diharapkan dapat membantu lembaga-lembaga nirlaba yang angka ketidakpastian masa depannya cukup tinggi karena amat tergantung kepercayaan yang diperoleh oleh donatur, sehingga ia dapat menuliskan masa depannya dengan baik dan terencana. Sehingga visi dan misi yang diusung sedari awal tidaklah sekedar hanya mimpi, melainkan menjadi cita-cita yang benar-benar tercapai.

Komposisi peserta pelatihan yang berasal dari BAZ maupun LA semakin dapat memperkaya sharing pengalaman diantara peserta satu lain. Setelah mendapat bekal teori manajemen strategis pada dua hari sebelumnya, peserta diharapkan dapat mengkorelasikannya dengan sesi luar ruangan melalui beberapa games edukasi pada sesi outbond. Kerjasama antar peserta pun semakin terasah di dalam maupun di luar ruangan selama pelatihan berlangsung. (saf)

Tidak ada komentar: